Senin, 26 Februari 2018

Persaingan antar produser Jamu

Hari ini saya kembali mengajar di kelas Promotional Technique untuk mahasiswa Pre-U. Seperti biasa saya mempergunakan metoda interaktif di kelas, untuk membuat para mahasiswa ikut aktif dalam proses belajar mengajar. Saya pikir ini perlu karena bukan kebetulan mereka masuk di kelas Pre-U karena akan melanjutkan study di Singapore, dan kita semua tahu system pendidikan di Singapore sangat mengutamakan kompetensi dalam penguasaan materi.

Pada saat saya membawakan materi tentang promosi dan nilai2x dalam society, sampailah diskusi kami tentang etika dalam promosi. Ketika meminta mahasiswa saya untuk memberikan contoh untuk persoalan etika dalam promosi, ada seorang mahasiswi yang membahas tentang persaingan antar produser jamu di Indonesia.

Kasus yang mahasiswi saya bahas berkaitan dengan promosi Tolak Angin yang diproduksi oleh PT.Sidomuncul vs promosi Bintang Toejoeh Masuk Angin yang merupakan produk dari Deltomed.

Sebetulnya ke 2 produser jamu tersebut tidak secara langsung berkonfrontasi, karena bentuk produknya jelas berbeda. Memang keduanya obat herbal, tetapi Tolak Angin berbentuk cairan, sedang Bintang Toejoeh Masuk Angin menggunakan kemasan tablet. Meskipun memiliki fungsi sama untuk mengatasi persoalan masuk angin.

Lalu dimana persoalannya? Persoalan timbul karena menggunakan bentuk komunikasi yang terlihat agresif.

Pada sekitar tahun 2010, Tolak Angin dalam promosinya mengeluarkan tagline yang berbunyi "Orang pintar minum tolak angin"



Di tahun 2012 an, Bintang Toejoeh Masuk Angin yang memiliki fungsi sama dengan Tolak Angin menggunakan tagline "Orang bejo minum Bintang Toejoeh Masuk Angin". Saya pikir kalau hanya sampai situ, masalah tidak akan timbul. Karena masing-masing bertujuan untuk mempromosikan produknya. Dalam promosi adalah sah untuk mengatakan produknya adalah yang terbaik, namanya juga berjualan.

Masalah timbul karena ada tambahan kalimat dalam iklan Bintang Toejoeh Masuk Angin yang berbunyi "Orang bejo lebih untung dari orang pintar". Dimana letak konflik nya?



Jelas, "Orang bejo lebih untung dari orang pintar" akan mendiskreditkan "Orang pintar minum tolak angin" dari PT.Sidomuncul. Karena kalimat diatas akan diartikan orang bejo yang minum Bintang Toejoeh Masuk Angin akan mendapatkan untung lebih besar dibanding dengan orang pintar yang minum tolak angin.

Memang tidak disebutkan secara langsung keuntungan yang didapat dari minum Bintang Toejoeh Masuk Angin timbang minum Tolak Angin. Tetapi tetap saja, promosi Bintang Toejoeh bertujuan merebut posisi Tolak Angin di pasar. Karena Tolak Angin lebih dahulu memasuki pasar dengan tagline nya tersebut, Bintang Toejoeh masuk setelah Tolak Angin menguasai pasar.

Perang kata-kata inilah yang terkesan kurang etis. Persaingan dalam dunia bisnis adalah wajar, tetapi cara yang digunakan haruslah etis. Sebisanya para marketer harus menghindari "perang terbuka" karena akibat jangka panjangnya bisa merugikan ke dua belah pihak yang sedang bersaing. Selain itu pandangan masyarakat pun dapat berubah menjadi negatip.

Ingat perspektif masyarakat patut dijaga, sekali masyarakat tidak percaya pada satu produk sulit bagi produk itu untuk dapat berhasil di pasaran. Apalagi kalau produk itu adalah produk baru. (IHW)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.